Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sajak dan Puisi

Teh Earl Grey dan Sebatang Kayu Manis

Rasaku mengalir bersama Secangkir earl grey yang Dituangkan dari teko Dengan sebatang kayu manis Di cangkirnya Aku masih bingung menjawab sebuah tanya Tentang suatu kata yang menuntun Untuk bertemu Sebabnya lah itu Aku mengalir padamu Dalam tuangan earl grey Dalam tarian darwisku Kucium yang khas wangimu itu Dalam tapa moksaku Aku dengar tawa renyahmu Dalam ilustrasi puisiku Kudapat genggaman rasamu Menyatu aku dalam dongeng Alunan senar gitar di tangan pengamen Yang memetik nada minor Yang memetik juga nada mayor Aku lah jingga dalam tawamu Aku lah merah dalam tangismu Aku lah hitam dalam beranimu Aku lah biru dalam takutmu Aku lah hijau dalam resahmu Aku lah warna dalam dirimu Lalu kusesap lagi Teh earl grey Dari cangkir kaca Berhias kayu manis 1947.290115

Seperti Ini Saja

Lihat aku! Hanya serpihan remah yang artinya tiada Hanya setetes air yang tak puaskan dahaga Hanya sepercik api yang tak undang hangat Lihat aku! Telah kutangkap senyummu dalam gelas kaca Telah kusimpan tawamu dalam botol bening Telah kugurat manismu dalam larik sedih puisi Telah kutulis ceritamu dalam sebingkai kanvas Biarlah seperti ini Menyesap angin yang membawa rasa Menjadi sungai yang menghapus duka Meraga api yang menuai cinta Merasa air yang melarut rindu Mendengar suara yang meniup namamu Membatu diri menghalau badai Angin tetap berhembus Sungai tetap mengalir Api tetap meretih Air tetap menetes Suara tetap berteriak Batu tetap tegak Aku tetap menunggu Aku tetap mengintai Aku tetap mengawasi Aku tetap menjaga 2109.141214

Para Dewa

Suatu ketika, Zeus beriringan dengan Amun Ra, di atas perahunya. Berhiliran di arus sungai malam, menuju secercah fajar. Ares kembali lagi berkelahi dengan Horus. Bilah tongkat tajam beradu dengan cakar elang runcing. Kala itu, Poseidon bersama Neptunus berbincang di selasar pantai. Menghirup aroma garam laut, semilir angin. Osiris dan Hades, beradu catur kematian, bertarus nyawa sampah manusia. Pluto dan Anubis terbahak tawa dibuatnya. Di sisi sana, Seth dan Lucifer dengan riangnya berbalas cakap dengan riangnya. Kegemaran mereka, kehancuran semerta kekacauan marcapada. Tetapi tiada yang ambil pusing. Siwa disana masih bersiaga. Memegang kekang Rahwana yang masih terus ingin membelot. Dunia tiada perlu getir. Hanoman dan Sun Wu-Kong masih asik sendawa cengkrama. Mereka ricuh menikmati tandan pisang kuning nan menggiurkan. Athena dan Hathor menyeruput teh hijau diantara semesta pustaka. Yesus dan 12 muridnya, masih menyesap wine mewah yang dihi...

celotehan

otakmu berpikir tapi nuranimu mati lisanmu bertutur tapi sadarmu sekarat ragamu berlaku tapi jiwamu lapuk paham darimu lenyap menyisakan hampa di sanubari segala kau lahap pasti segala kau cerna habis menyisakan ampas sampah meninggalkan intisari penting pengetahuanmu membusuk hati nuranimu meranggas otak cerdasmu terpuruk

Di Situ

Di matamu, butaku menemukan cahaya Di lisanmu, bisuku menemukan suara Di telingamu, tuliku menemukan gemaa Di jejakmu, lumpuhku menemukan langkahnya Di hatimu, sukmaku tiada rasakan hampa Di genggammu, tanganku rasakan jalannya Di bibirmu, keluku menemukan kata Di sentuhmu, matiku menemukan asa Di belakangmu, kutemukan arah Di sampingmu, kutemukan nyaman Di depanmu, kutemukan tujuan Di dirimu, kutemukan rasa itu Kita, episentrum dunia

Tak Apa Sesekali Kau Menjadi Jahat

tak apa sesekali kau menjadi jahat menumpahkan api ke lidahmu menjadikannya pedang tajam nan panas tak apa sesekali kau menjadi jahat melapisi tanganmu dengan besi menjadikannya gada pemukul tak apa sesekali kau menjadi jahat menuang tuak ke lambungmu menjadikannya kolam kenistaan tak apa sesekali kau menjadi jahat meracunimu pikiranmu sendiri menjadikannya penuh prasangka tak apa sesekali kau menjadi jahat menebar noda kotor di udara membuat celaka yang lainnya tak apa sesekali kau menjadi jahat menuang tuba di danau segar membikin sengsara yang lainnya tak apa sesekali kau menjadi jahat hari ini sekali esok sekali lusa juga sekali seterusnya tiap hari sekali dan kau tak kan berhenti 1451.160214

Karang, Ombak, Nebula, Bintang

Dalam diam aku menghitung bintang di malam Tak sebanyak hari yang kuhitung denganmu di angan Kugurat sebongkah nebula di angkasa Tak seindah sakit yang kurasa untukmu Debur rinai ombak berderak desah merdu Tak semerdu nada sunyi nyanyian laraku Karang masih menantang tegar di lepas laut Kenapa pula aku tak kuasa tegar untukmu Karang, Ombak, Nebula, Bintang Bagai dariku, diriku untukmu tepat di ujung februari, pesisir kondang merak *puisi yg di request salah satu teman saya*

Perspektif

aku melihat dalam kebutaan aku mendengar suara kebisuanaku berbicara bahasa ketulian aku berjalan diatas kelumpuhan dunia butamu amat terang benderang dunia bisumu terlalu cerewet dirasa dunia tulimu bising ramai terdengar dunia lumpuhmu kelewat sibuk dijalani bagiku bagi yang sejenak lupa sejenak lupa bentuk fana

Dialog Antara Sang Koruptor dan Tuan Malaikat

(KORUPTOR) Dahulu kala.. Seketika kami mahasiswa Kami selalu berdiri membela Para rakyat kecil nan menderita Disebabkan maling berdasi korupsi merajalela Tetapi kian hari kami kian sadar Bahwa kejahatan ini akan terus menyebar Setelah itu kami terjerumus Kami terus terbawa ikuti arus Menyandang nama korupsi terhunus Sekarang kami masih berdiri tegak Membela korupsi yang angkanya kian menanjak Menghalau jauh para anggota cicak Dari aparat kami masih bernafas bebas Dari penjerat kami masih lolos lepas Bahkan maut pun nanti kami kan kelabui Ha ha ha (MALAIKAT MAUT) Tunggu! Tunggu...tungu...tunggu... Mengelabuiku kau bilang? Aku-lah, sang maut, yang mengelabui kalian Kubiarkan kalian berenang dalam rupiah dolar Agar menunggu hidayah tuhan menghampiri Tapi apa? Kalian makin menghimpun dosa Kalian makin terjerumus hina Sekarang-lah waktu kalian menicip maut! Ha ha ha (KORUPTOR) Tunggu! Biarkan kami kembali Mengemis p...

Sang Putri Bunga

Disebuah negri antah berantah Tersebutlah sang Putri Bunga Dia liar,dia nakal Berlapis hias kain kemuliaan Tapi berlaku tak kenal batas Melompat kian dari sana kesini Tak peduli akan berjumpa duri Seakan lupa pasti bersua mati Dia tetap berlari sepuas diri Tetap bermain sembarang hati Juga dia menghias raga Dari tinta dunia warna-warni Merajah jasad indah tubuhnya Dengan ragam kelumit fana Sampai tiba pada akhirnya Sang Putri berjumpa duri Sang Putri bersua mati Diambangnya dia sentuh hampa Tak tahu apa harus dirasa Dia akrabi sang karma Dia candai para musabab Dengan sabarmenemani tabah Dengan tabah menuai sepi Sang Putri sedang menanti Sang Putri sedang mencari Akhir dari akibat ini

UNTUK SISTEM DUNIA YANG SUDAH SALAH

Akulah sang anjing senja yang menyalak pada dunia Meminta seonggok makanan yang bernama ceria Bertanya sepatah kata hilang lindap ke akhirat Melata dialam sampah melihat dunia melarat Akulah manusia bayangan hitam dari siluet putih Bermain bara api liberalisme dihadapan rahib Menantang mengejek mengajaknya kelahi bertarung Menjadikan manusia bagai ayam siap sabung Lihatlah dunia dengan gonggongan suara mayoritasnya Menjadikan akal suci kemanusiaan seekor budak system Dengan tanpanya mereka hanya jadi tak berdaya Buntulah fitrah kreativitas oleh intervensi buram hitam Ditengah salah semua sistem ‘kami semua segera celaka’ ‘kami semua haus dahaga’ ‘selamatkanlah kami wahai al-Mahdi’ Begitu kata kalian Dengan dalih keterlanjuran Dengan dalih ketidakmampuan Dengan dalih butuh batu loncatan Dengan dalih momentum diperlukan Bah! Lihatlah akibat dari monster system Terjagalnya kemandirian dari leher daha hidup Mencipta manusia yang hany...

LULLABY

dentang waktu mengetuk mengingatkan kelambu cahaya rembulan menyelimuti senyap bintang pun berkelip bernyanyi menyenangkan riak bintang malam mencuri lelah tubuhmu tidurlah.... menyerahlah pada malam yang kan menculikmu pasrahlah pada hening yang tersenyum riang lepaskan pakaian dunia nan tak sedap dikenakan lupakan bisikan lelah nan hitam pekat mengukung bersabarlah temani angan didalam benak dibalik mata tidurlah..... percaya mentari pagi selalu ada untukmu di timurnya percaya sang jago tak pernah bosan menyapa terang tak luput kicau malaikat kecil mengawal surya ingat apa yang dipandang tak akan hanya berbatas ingat suara merdu sang takdir tak pernah terputus tidurlah..... dengan rasa digenggaman dengan hangat diangan dengan lullaby mengalun selalu, lullaby-ku untukmu selalu, lullaby-ku menjagamu 1915/28022013 *lullaby: nyanyian pengantar tidur untuk anak anak