Dialog Antara Sang Koruptor dan Tuan Malaikat



(KORUPTOR)
Dahulu kala..
Seketika kami mahasiswa
Kami selalu berdiri membela
Para rakyat kecil nan menderita
Disebabkan maling berdasi korupsi merajalela
Tetapi kian hari kami kian sadar
Bahwa kejahatan ini akan terus menyebar
Setelah itu kami terjerumus
Kami terus terbawa ikuti arus
Menyandang nama korupsi terhunus
Sekarang kami masih berdiri tegak
Membela korupsi yang angkanya kian menanjak
Menghalau jauh para anggota cicak
Dari aparat kami masih bernafas bebas
Dari penjerat kami masih lolos lepas
Bahkan maut pun nanti kami kan kelabui
Ha ha ha

(MALAIKAT MAUT)
Tunggu!
Tunggu...tungu...tunggu...
Mengelabuiku kau bilang?
Aku-lah, sang maut, yang mengelabui kalian
Kubiarkan kalian berenang dalam rupiah dolar
Agar menunggu hidayah tuhan menghampiri
Tapi apa?
Kalian makin menghimpun dosa
Kalian makin terjerumus hina
Sekarang-lah waktu kalian menicip maut!
Ha ha ha

(KORUPTOR)
Tunggu!
Biarkan kami kembali
Mengemis pada tuhan kami
Beri kami sehari! Satu jam! Satu menit!

(MALAIKAT)
Diam!
Kurang kenyang apa lagi kalian?
Kesejahteraan rakyat kau hisap sampai kembung
Uang negara kau raup sampai kantongmu melendung
Tanpa sadar darah jutaan rakyat kau hisap
Tanpa sadar dunia mereka kau buat pengap
Kalian kemanakan hati nurani?
Hiraukah kalian atas nama simpati?
Kutahu pasti jawabannya tidak
Acuh kau nikmati korupsimu nan rancak
Perlukah aku akan saksi?
perlukah aku akan bukti?

(KORUPTOR)
Tunggu tuan malaikat!
Kami ingin sangkalan diajukan
Kami mau bukti didatangkan

(MALAIKAT)
Diam!
Demi Tuhan diam!
Tak butuh kami saksi didatangkan
Tak perlu kami bukti diajukan
Kerana kau akan tahu nanti
Tangan kaki akan berbicara sendiri
Tak terelakkan mereka menjadi saksi
Kuingat selalu kata katamu
Bernafas bebas kau dari aparat
Lolos lepas kau dari penjerat
Tapi dari maut?
Tapi dari pengadilan Tuhan?
Tak akan pernah sekalipun kau luput!
Ikut kami!
Ikut kami!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LULLABY

Resonansi Saya Terhadap 2020