Takdir Untuk Kau. Aku dan Kita



Kalau begini, siapa yang harus disalahkan? Apakah sang takdir? Atau orangtuaku? Entahlah. Yang jelas aku hanya bisa pasrah.
Ini bermula beberapa bulan yang lalu, setelah sebuah prosesi bernama UN selesai. Sedikit bersantai, bernapas lega setelah berbulan-bulan ditempa. Suatu hari orangtuaku mengajak pergi keluar kota. Yah, kukira hanya perjalanan wisata biasa, atau kunjungan ke sanak kerabat. Tapi tidak. Mereka membawaku ke sebuah kota kabupaten yang tak terhitung besar, masih didalam provinsi tempatku tinggal.
Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan memasuki pedesaan yang sejuk dengan pemandangan indahnya. Hei, akan sangat menyenangkan jika kami sekeluarga bisa tinggal disini beberapa hari.
Tapi, sekali lagi tidak. Pedesaan ini bukan tujuan kami. Sekonyong-konyong mobil kami memasuki sebuah kompleks. Aku terperanjat, di daerah pedesaan seperti ini ada kompleks berisi bangunan yang terbilang cukup bagus.
“Ayah, tempat wisata apa ini?”
Ayah dan Ibu tertawa mendengar pertanyaanku.”Bukan nak. Ini bukan tempat wisata.” Kata Ibu.
Ayah menyambar,”Ini sekolah berasrama. Sekolah yang hebat. Dengan ilmu agama yang sepadan diajarkan dengan sains dan iptek.”
“Wow, kedengarannya fantastis. Ada kerabat kita yang ingin dikunjungi?”
Ibu mengelus kepalaku, berkata lembut.”Bukan nak. Ini akan jadi sekolahmu. Kau akan melanjutkan sekolah tingkat atas disini.”
Aku terkejut mendengarnya.
Yah,itu  beberapa bulan yang lalu. Mengingatnya pun masih bisa membuatku terperanjat. Waktu itu kami datang untuk melihat-lihat. Banyak kamar. Banyak kelas. Failitas yang lengkap. Juga banyak siswanya. Eh, apa itu sebutan lain untuk siswa-siswa disini? Santri. Ya, mereka menyebutnya santri. Sekarang tanpa kusadari aku sudah menjadi bagian dari ‘santri’ itu. Menjadi bagian sebuah tempat yang disebut sebagai ‘pesantren’.

*****
Ah. Apakah takdir salah menunjuk? Harusnya aku sekarang menjadi salah satu murid  SMA favorit di kota besarku. Tapi takdir berkata lain. Aku harus menjalani kehidupan di pesantren ini. Bukan sebagai murid kelas 1 SMA atau setingkatnya.Tapi sebagai murid kelas persiapan bahasa. Mereka menyebutnya ‘preparation class’, atau terkadang dengan istilah bahasa arab, kelas I’dad.
“Hei!” Sebuah suara menepuk pundakku. ”Tidak makan kau?”
Ah,dia lagi. Bocah yang semenjak masuk sini berusaha akrab denganku. Bernama Zaidan. Bocah dari seberang pulau sana. Bocah yang sebenarnya punya persamaan besar denganku.
Aku meliriknya, kemudian menyahut ketus.”Bukan urusan kau.”
Dia duduk di sampingku. Piring besinya diteruh di pangkuannya. ”Jangan begitu lah kawan. Kalau kau tak makan, bisa sakit jadinya nanti. Lalu merepotkan banyak pihak.”
“Dasar cerewet. Seperti ibuku saja kau.” Kataku sambil melihatnya risih.
Diamulai terkekeh. “Hehe. Aku tahu, pasti kau malas bertemu kakak kelas yang suka menyerobot antrian itu ya? Oh, atau kau tak berselera makan dengan lauk yang sederhana itu? Haha. Lucu ya kalau diingat waktu masa orientasi dulu lauk pauknya sangat nikmat. Sekarang sudah berbalik 180 derajat saja. Haha”
Terlepas dari sifatnya yang sangat suka bicara, anak ini sebenarnya cukup menyenangkan. Hanya saja aku melampiaskan kekesalan karena masuk pesantren ini dengan bersikap ketus padanya.
Dan setelah berpanjang lebar bicara monolog sendiri, akhirnya dia berkata, “Oke kalau kau tak berselera makan. Biar aku saja. Daah.” Dia melambaikan piring besinya.
Sebenarnya aku iri terhadapnya. Entah kenapa sepertinya mudah bagi dia menerima semua keadaan. Bahkan semua intimidasi kakak kelas, kamar mandi yang berantakan, atau semua hal buruk tentang pesantren ini bisa dijadikan lelucon dan bahan tertawaan baginya. Padahal tak jarang kulihat kilatan aneh dimatanya, ketika dia sendiri.

*****
Malam ini sangat tenang. Kuputuskan membaca kitab suci di pelataran masjid. Sesekali terdengar suara binatang malam. Mulai dari jangkrik, burung hantu bahkan sampai gonggongan anjing liar dari hutan. Belum lama aku membaca, suara khas anak itu menegurku.
“Hei kawan. Tak kusangka suara kau cukup bagus juga.”
Suasana hatiku sedang baik. Kututup kitab suci dan tersenyum padanya. Dia pun duduk disampingku.
“Haha. Apa aku mengganggu?”
Aku hanya menggeleng. Dia memejamkan mata, entah sedang atau untuk apa.
“Menakjubkan kan?” Katanya setelah dia membuka matanya lagi.
“Eh?”Aku bingung.
“Pejamkan mata dan coba dengar suara alam sekelilingmu.”
Aku menurutinya.
“Indah bukan?” Tanya Zaidan retorikal.
Aku mengangguk. “Aku selalu ingin mendengar semua nyanyian ini di rumahku sendiri setiap saat. Hahaha”
Zaidan tersenyum. “Haha. Berterimakasih lah pada Tuhan hingga takdirnya menuntun kau ketempat ini. Sampai bisa mendengar semua keindahan ini.”
Aku tertegun. Takdir. Satu kata yang akhir akhir ini selalu kusalahkan. “Zaidan?”
“Ya?” Sahutnya.
“Apakah kau percaya bahwa takdir bisa berlaku pada orang yang salah?”
“Maksud kau?”
“Ya. Saat ini aku yakin bahwa takdir salah berlaku atasku. Seharusnya sekarang aku berada di rumah yang nyaman dan menjadi salah satu siswa di SMA favorit. Tapi takdir salah berlaku, dia malah menyeretku ke pesantren ini. Puh!”
Dia tersenyum, lalu menarik nafas dan menghembuskannya kembali. “Kau tahu kawan, ada satu perkataan Nabi yang menyatakan bahwa sesuatu yang menimpa kita tidak mungkin salah sasaran. Dengan kata lain, takdir Tuhan selalu berlaku pada tempatnya, pada orang, waktu dan tempat yang tepat. Aku selalu meyakini perkataan Nabi ini.”
Aku membantah dengan keras kepala, “Tapi Zaidan, ini semua bukan yang kuinginkan!”
Di amasih tersenyum sabar, “Dengar ini kawan, Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Lagipula Tuhan juga berfirman dalam kitab suciNya, bahwa mungkin kita menyukai sesuatu padahal mungkin itu buruk untuk kita. Dan sebaliknya, kita membenci sesuatu padahal itu baik untuk kita. Firman ini berarti bahwa dibalik segala sesuatu pasti ada hikmah baiknya untuk kita. Yah, mungkin itu tidak terbayar secara kontan, tertunda. Tapi pasti kita akan merasakan kebaikan itu. Walau entah itu esok atau esok lusa, atau bahkan bertahun, berpuluh tahun kemudian.”
Aku terdiam mencerna perkataan Zaidan.
Dia menghela nafas, “Dari pertanyaan dan perkataan kau aku tahu bahwa kau menyalahkan takdir. Kau tahu kawan, andai takdir bisa disalahkan, mungkin akulah orang yang paling berhak untuk itu. Sungguh.”
Kilat mata itu! Kilat mata yang kadang kulihat darinya, “Ke, kenapa memang?”
Maka mengalirlah dari mulutnya untaian-untaian kalimat. Ya, mungkin untaian kalimat Zaidan-lah cerita paling menyedihkan yang pernah kudengar dari seorang remaja untuk seumur hidupku. Terjawablah sudah kenapa kadang kilatan aneh di matanya itu muncul. Itu kilatan kesedihan yang amat mendalam.
“Zaidan…A, aku turut sedih mendengarnya.”
Dia tersenyum getir, “Terimakasih.”
Hening beberapa saat, hanya suara nyanyian alam yang mengiring. Kami sama-sama terdiam. Akhirnya dia berdiri, “Aku pergi tidur duluan ya. Semua melodi malam ini membuatku terlena. Hehe.” Dia berlalu pergi.
Aku menahannya.
“Ya?”
“Eee… Aku minta maaf atas semua sikap ketus dan dinginku selama ini.”
Dia hanya terkekeh, mengacungkan jempolnya kemudian berjalan ke arah asrama.
Sehilangnya dia dari pandanganku, aku kembali memikirkan semua perkataan dan ceritanya. Ya, sekarang aku mengerti. Takdir Tuhan tidak pernah meleset. Pilihan yang dipilih Tuhan untuk kita tak akan pernah salah, dan tidak akan pernah pahit, selalu manis. Darinya juga aku belajar bagaimana memahami dengan pemahaman yang baik. Serta menerima dengan penerimaan yang indah.
Sejak keesokan paginya, entah bagaimana kami sudah sangat akrab.

*****

Nah, coba lihat aku sekarang. Akhirnya aku mengerti kenapa Zaidan bagai bisa menjadikan semua hal tidak enak di pesantren ini sebagai lelucon. Kini kami berdua suka menertawakan suatu kejadian tanpa alasan. Entah mengapa. Nah, nah, nah. Lihat, dia mulai lagi.
“Hahahaha. Hei hei. Coba lihat itu.” Bahaknya tak terhentikan.
Aku melihat ke arah yang ditunjuk oleh jari Zaidan. Terlihat sekelompok anak tingkat 2 SMA sedang mendorong ring basket yang bisa dipindah-pindah itu. Berat tentunya. Tapi apa daya. Kakak kelas dari tingkat 3 SMA ingin bermain futsal dilapangan serba guna pesantren kami, sedangkan yang 2 SMA ingin bermain basket. Jadilah yang tingkatnya rendah mengalah dan menurut pada yang hierarkinya lebih tinggi.
“Hahaha. Hei, kau tahu apa yang lebih lucu dari itu?”
“Apa itu?”
“Akan lebih lucu lagi jika nanti para guru datang ingin main voli, lalu menyuruh anak-anak kelas 3 itu mengangkat gawang dan memasag tiang serta jaring volinya. Jadilah itu saling suruh-menyuruh berantai.”
“Nah benar itu. Kelas 2 disuruh-suruh kelas 3, dan kelas 3 jadi pesuruh para guru.”
Kami tertawa terbahak. Beberapa santri lain yang melewati kami memandang aneh.
“Hei. Mau kutunjukkan sesuatu tidak?” Kata Zaidan setelah tawa kami reda.
“Apa?”
Dia menarik tanganku. Kami lalu melangkah ke masjid pesantren yang juga menjadi masjid umum di desa ini. Zaidan menyeretku ke ruang keranda mayat di pojok utara masjid.
Aku begidik ngeri, “Hei. Mau apa kita di ruang keranda?”
“Kau naiklah!” Dia berkata sambil menunjuk tangga spiral di pojok ruangan.
Eh! Tangga spiral? Aku baru menyadari ada tangga spiral di ruangan ini.
“Naiklah!”
Aku memandanganya, bertanya meyakinkan.
“Ayo cepat. Tenang saja, kau tak akan kutinggal. Hehe”
Dengan masih ragu aku meniti anak tangga. Derap kaki Zaidan dibelakangku. Aku harus berhati-hati melangkahi tangga ini, karena terasa besinya sudah agak rapuh. Kemudian di ujung tangga aku membuka tutup tingkapnya. Kukira kami akan tiba diloteng, tapi ternyata kami ada diatas atap luas datar masjid kami.
“Hehe. Bagaimana?”
Aku terkesima. Dari sini lanskap perbukitan sekitar pesantren kami terlihat sangat indah. Dihiasi pula oleh petak-petak pedesaan dengan semua rumahnya yang sederhana tapi memberikan kesan indah dan rapi. Atap kami kini hanya udara bebas yang tersambung ke langit luas. Sangat indah.
“Kautahu? Kalau malam pemandangan disini jauh lebih indah. Orkestra bintang dilangit. Lampu-lampu di pedesaan. Terkadang malah terlihat seperti ada ribuan bintang di hutan sana, ribuan kunang-kunang. Tapi sayangnya, waktu malam jalan kesini terlalu seram untuk dilalui. Hehe.”
Aku hanya tersenyum. Kemudian kami duduk, menikmati desiran angin dan pemandangan hijau pedesaan. Satu-dua ekor elang kadang menari-nari di angkasa mencarimangsa. Tak terasa aku jatuh terlelap. Baru bangun lagi setelah setengah jam kemudian.
“Heh, gampang nian kau terlelap.”
“Tentu saja. Tempat ini nyaman dan membuat betah.” Aku menguap lebar.
“Oi, omong-omong soal betah, beberapa bulan ini kau tidak mengeluh tidak betah lagi ya?”
Aku tertegun. Pertanyaan yang sulit. “Entahlah. Kupikir, semua rasa tidak betah itu teralihkan oleh kegiatan yang padat, tapi masih belum hilang. Entah mengapa. Rasa ingin bebas dari pesantren ini juga belum lenyap. Mungkin saja jika ada momentum yang tepat , aku akan keluar dari pesantren ini. Menjadi murid SMA biasa dan tinggal di rumah, merasakan bebas.
Zaidan merangkul pundakku, “Jangan begitu lah. Kalau kau keluar, siapa yang menemaniaku disini? Hahaha”
Aku meledeknya, “Mana peduli aku. Itu deritamu. Hahaha.”
Dia membalasnya dengan tinju di pundakku.
“Ah!” Tiba-tiba dia berseru, “Aku tahu. Bagaimana kalau kita membuat sebuah janji?”
“Janji apa?”
“Janji untuk menyelesaikan pendidikan di pesantren ini sampai akhir dengan sebaik-baiknya.”
Aku tergelak. Baiklah. Aku menjulurkan tanganku.
“Ikuti aku ya.” Katanya sambil menjabat tanganku.
“Oke. Dengan ini aku, Zaidan, berjanji kepada diri sendiri akan menyelesaikan jenjang pendidikan di pesantren ini dengan sebaik mungkin sampai selesai. Allah serta teman yang menjabat tanganku inilah yang akan menjadi saksi atas janjiku ini.”
Aku mengikuti kata-katanya dengan lancar. Sama persis tanpa satu huruf pun yang berbeda.
“Haha. Nah, sekarang kita sudah terikat janji ini. Jadi tidak ada satupun dari kita berdua yang boleh keluar dari didikan pesantren ini dengan alasan remeh temeh seperti tidak betah atau apalah itu. Kecuali dengan alasan jelas nan kuat yang memaksa kita keluar.” Zaidan berkata sendu. Sekali lagi kulihat sekelebat kesedihan di matanya.
Ah, kuanggukkan kepala mantap. Menyimpan janji itu dalam hati. Ternyata benar kata Zaidan, Tuhan selalu punya rencana manis untuk kita dibalik takdir yang tidak kita sukai. Dan mungkin rencana manis Tuhan untukku adalah bertemu seseorang dengan pemahaman dan penerimaan yang hebat bernama Zaidan. Bertemu dengan seseorang yang ternyata memiliki banyak persamaan denganku, bukan hanya satu persamaan besar itu saja.

*****

Haha. Entah apa yang takdir inginkan atasku. Sepertinya dia yang membuatku melanggar janji yang kubuat dengan Zaidan diatas atap masjid itu. Sekarang, aku harus memutus pendidikanku di pesantren ini di tengah jalan. Ya, tepat sekali ditengah jalan. Hal ini kuutarakan pada Zaidan.
“Kau serius?” Dia kaget.
Aku mengangguk mantap. Sangat mantap malah.
“Bagaimana dengan janji yang kita buat diatas atap masjid lebih dari 1 tahun yang lalu? Kau harus punya alasan yang kuat.” Zaidan berkata dengan emosi yang meluap.
“Hehe. Sudah kuceritakan alasanku teman. Itu lebih dari kuat kan?”
Dia masih menatapku lekat-lekat. “Hei, apa kau tega meninggalkanku disini? Siapa nanti yang bisa kuajak bercanda? Siapa lagi nanti yang bisa kuajak bersama? Bisa mati jenuh aku disini tanpamu kawan.”
Aku menggodanya, “Nah, itu deritamu kawan. Haha.”
Sebagai balasannya aku menerima tinju pelan di bahuku.
“Aduh. Hahaha. Dengarkan aku ya. Teman sekelas kau itu ada puluhan orang, dan teman seangkatan ada ratusan . Banyak kan? Lebih dekatlah dengan mereka. Jangan terpaku bersahabat denganku saja Zaidan. Serta percayalah, tanpa aku pun kaupasti bisa bertahan disini dan bertahan sampai pendidikanmu selesai. Kau juga tidak akan mati karena jenuh seperti yang kau bilang, itu hanya kata-kata yang berlebihan. Hahaha.”
Dia menghela nafas panjang. Kemudian hening lama menggangtung diantara kami, hanya desau angin semilir.
“Jadi kapan kau akan berangkat?” Katanya memecah kesunyian.
“Besok.”
“Besok?”
Aku mengangguk mantap, “Ya. Besok.”
“Cepat sekali. Ini mungkin terakhir kalinya kita duduk bercengkrama disini ya.”
Aku mengangguk. Hening kembali diantara kami.
“Zaidan.” Dia memecah hening lagi. “Terimakasih ya atas persahabatan kita selama ini. Juga terimakasih atas semua pemahaman yang kau ajarkan. Terimakasih pula karena telah membuatku betah di pesantren ini. Ah, akan terlalu panjang kalau kurunut satu-satu rasa terimakasihku. Mungkin juga semuanya tak akan sempat terbalas olehku. Oh iya, dan maaf atas semua salahku padamu, ikhlaskan semuanya ya.”
Aku meledeknya, “Eh, tak kusangka kau bisa menjadi sangat melankolis seperti ini. Dan kau berbicara seolah-olah esok hari aku akan dijemput oleh malaikat maut. Aku hanya kembali ke rumahku kawan, bukan kembali ke hadirat Tuhan.”
Dia tertawa. Kami tertawa.
Itulah candaan terakhir kami di atas atap masjid. Keesokan harinya lebih banyak diam diantara kami berdua. Dia hanya banyak membantu, mulai dari memasukkan barang dan pakaian ke koper besar sampai mengangkatnya ke mobil yang akan membawaku. Kami sebenarnya masih belum sepenuhnya rela atas perpisahan ini.
Tibalah waktunya untukku pergi. Mobil sudah menunggu.
“Hei.” Dia memanggilku. Akupun mendekatinya.
“Terimakasih dan maaf ya.” Katanya.
Aku mengangguk, menjabat tangannya. “Jangan jadi seperti dulu lagi ya, sedikit-sedikit menyalahkan takdir. Apalagi takdir yang membawaku pergi. Ingat, pasti ada rencana manis yang telah Tuhan siapkan untukmu.”
Dia mengangguk, kemudian memelukku.  Pelukan yang amat lama. Apakah ada tangisan? Tentu saja tidak ada kawan. Kami laki-laki, pantang sekali menangis. Begitulah perpisahan kami, sederhana. Tidak ada perpisahan dramatis seperti yang biasa kau saksikan di film-film atau sinetron-sinetron itu.
Aku menaiki mobil, meninggalkan pesantren, pedesaan dan Zaidan di belakangku. Aku harus kembali ke rumahku untuk merawat satu-satunya keluargaku yang tersisa, yaitu kakekku yang sudah sakit-sakitan. Bibiku yang merawat Kakek semenjak orangtuaku meninggal karena kecelakaan tragis, sekarang juga telah menyusul kehadiratNya. Ya, jadi aku harus pulang ke seberang pulau sana.
Eh, seberang pulau? Ya, tentu saja. Jangan-jangan kau pikir aku Zaidan si anak kota besar itu ya? Bukan kawan, aku Zaidan dari seberang pulau. Hei teman, bukankah sudah dikatakan bahwa banyak sekali persamaan diantara kami? Ya, salah satu persamaan yang terbesar adalah nama kami yang sama-sama Zaidan. Maka dari itu aku tertarik mendekatinya semenjak masa orientasi pesantren kami.
Ah sudahlah, mungkin kisah ini harus berakhir. Aku hanya bisa menuruti kehendak Tuhan untuk menjemput takdir di pulauku. Dan juga semoga sahabatku Zaidan bisa menjalani satu takdir yang lebih baik disana, di pesantren kami di tengah pedesaan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Antara Sang Koruptor dan Tuan Malaikat

LULLABY

Resonansi Saya Terhadap 2020